18/10/10
GADIS DALAM KOTAK
Oleh Perempuan Di Keheningan
berlarilari mencari arah
mendekap sebuah Kitab
disebelah tangan lain menenteng boneka
Ia tidak sedang mengitari taman yang penuh bungabunga
rok panjangnya telah bercampur noda
kerudung mungil yg menyisakan seraut wajah terciprat amis darah memerah
Ia memanggil ibunya
Ia mencari ayahnya
Ia terus berlari diantara reruntuhan kota
pada sebuah sudut, dibawah gedung yang tercarutmarut
Ia menemukannya
ayahibu berpelukan dengan luka
tertembus tembakan
penuh cinta, kecupan dilayangkan pada keningkening kedua malaikat hatinya
seucap Syahadat, menemani tertutupnya mata
gadis tersenyum mengiring perjalanan akhir atas Syahid mereka
Dia.. gadis kecil di layar kaca
betapa ingin kukejar dan meraih sisasisa harapnya
[ Kau tau, manisku... setiap yang berhati ibu ingin menemani juangmu. sayang aku tak dilahirkan di kota sucimu. maka dari sini kukirim setangkup doa untuk keselamatan dan 'kemerdekaan' bangsamu ]
04/09/10
MENDUNG DI PELABUHAN RATU
Oleh : Perempuan Di Keheningan
tak asing lagi.Langkahnya
sempoyongan,rambut yg
tadinya digelung rapi kini
berantakan.Pun ocehan yg
keluar dari bibirnya dapat
ditebak,adalah rentetan gumam
serupa orang edan.Bi
Inah,pembantunya bergegas
membukakan pintu dan
memapah masuk ke dalam
kamar.Dilepaskannya sepatu
dan ikat pinggang nona cantik
itu."sampai kapan mau
begini,Non?"keluh Bi Inah
sembari mengelus
dada.Maklum,dia adalah
pengasuh Tantri sejak
kecil.Hampir smua peristiwa
dirumah juragan yg telah
menganggapnya sbg keluarga
itu,Ia tau.Sering ia menangis
menyaksikan Tantri pergi
petang pagi pulang dan selalu
dlm keadaan mabuk.
Tantri,putri satusatunya
pasangan pengusaha ternama di
kota Subang,seharusnya tak
perlu mengalami nasib seperti
ini.Gadis berbodi sexy lulusan
sebuah perguruan tinggi dgn
titel sarjana,segala fasilitas
hidup hampir dipastikan tdk
bakal kepayahan,terpaksa
menelan pil pahit setelah
menjadi korban perlakuan
biadab seorg lelaki hidung
belang,yang tak lain adalah
calon suaminya sendiri,hasil
perjodohan.
Setahun yang lalu,pada
pertengahan
desember,derasnya hujan yg
mengguyur kotanya adalah
saksi,awal kisah kelam gadis
itu.
Sepulang menghadiri pesta
pernikahan sahabatnya,Tantri
diantar Amir menuju villa
orgtuanya di Puncak.Hanya
berdua.Kebetulan pak
Karman,supir pribadinya tengah
cuti duahari di kampung
halaman.
Tak ada kecurigaan atau
firasat,apalagi mengingat ia
adalah calon pendamping
hidupnya,yang tentu akan
menjaga dan melindunginya.
"Mas Amir sudah telpon ke
Papa ya ?" tanya
Tantri.Sementara Amir yg
memegang kemudi,hanya
menjawab dgn anggukan.
"Papa kok tidak menghubungi
Tantri dulu,juga gak ngasih tau
kalo malam ini mau nginap di
villa " kali ini,Tantri
memberanikan diri
menyodorkan pertanyaan pd
Amir,lbh spesifik.
"Papa tadi cuman pesan,kita
disuruh kesana."jawab Amir
tanpa menoleh pd Tantri.Gadis
menghela nafas,berharap apa
yg dikatakan Amir adalah
benar.
[ cttn ini terbagi atas 2
bagian.Bagi yg merasa
request,mhn di tggu bentar
lanjtnya.dan silakan
disimak.kritik n saran,dibuka ]
MENDUNG DI PELABUHAN RATU #2
Oleh : Perempuan Di Keheningan
villa itu.Hanya satpam yg
berjaga dipintu gerbang dan
seorang tukang rumput yg oleh
papanya Tantri diberi
kepercayaan untk menjaga
tempat tsb,tidur di ruang
belakang dgn bangunan
terpisah.Diluar hujan masih
sangat deras,petir sesekali
menyambar.Berdua mereka
turun dr mobil.Tibatiba tangan
Amir meraih gagang pintu dan
mengambil kuncinya stlh
mereka berada didalam.Tantri
kebingungan.entah setan mana
yg tlh merasuki pikiran
Amir,malam itu Tantri seperti
santapan seekor
singa.Perlawanan Tantri justru
membuat Amir
geram.Ditamparnya gadis itu
berulangkali hingga tak
sadarkan diri,kemudian
dilampiaskan keinginannya
trhdp gadis itu.Rupanya tak
cukup,tubuh Tantri dibopong ke
mobil,meninggalkan
villa,menuju Pelabuhan Ratu.
Disebuah rumah
kontrakan,Tantri dijadikan
bulanbulanan Amir dan 2 org
temannya,lantas di tinggalkan
begitu saja.Hingga keesokan
harinya,ditemukan seorg ibu
muda yg bermaksud mengantar
surat pd penghuni rumah.
Luka itu tak terkata.Dua bulan
lbh Tantri mendekam di
kamar,tatapan kosong
menerawang.Hingga suatu
hari,ia pergi ke sebuah
bar.menghabiskan
malammalamnya disana.
Bahkan kini,ia jatuh dari satu
pelukan lelaki ke lelaki
lain.Berharap kelak dapat
menemukan Amir untk
kemudian menikam atau
menjerat lehernya,agar
merasakan kepedihan serupa.
Namun sampai saat ini,nama
Amir bahkan tak pernah
didengarnya lagi.
[ maaf ya,tak sempurna ku
tulis... ]
03/09/10
LEZATNYA SEBUAH JANJI
Oleh : Perempuan Di Keheningan
kamar dan ruang tamu,padahal
jam telah menunjukkan pukul 9
pagi.Waktu dimana Ia harus
segera berangkat menjemput
kepulangan Iqbal,suaminya dari
rantau. Belum selesai
memasang taplak meja,tibatiba
Ia dikejutkan oleh bunyi klakson
mobil milik Anton,sang kakak
yang diminta untk
mendampinginya ke Bandara.
"Ntan...cepet,udah siang.Ntar
terlambat lho"begitu teriak
Anton memanggil Intan,adik
semata
wayangnya.Keduanya,meskipun
telah samasama menikah dan
berlatar belakang ekonomi yg
jauh berbeda,tetaplah menjadi
sepasang adikkakak yang saling
mengasihi seperti ketika masih
kanakkanak dulu.
"Iya Mas.Bentar ah,ngambilin
jaket buat Rayhan dulu."jawab
Intan dari dalam
rumah.Rayhan,malaikat kecil
buah perkawinan Intan dgn
Iqbal 6thn yg lalu,kini telah
berusia 4thn.Bocah kecil itu
hampir tak pernah
bertatapmuka dgn sang
ayah,lantaran nasib
membawanya jauh
terpisah,demi masa
depan.ya,lagilagi sbuah alasan
yg kadang membuat kt menelan
ludah ktka
membicarakannya.Ironis,di
kampung yg terkenal gemah
ripah loh jinawi,kaum lelaki
justru kesulitan mencari
nafkah.Lapangan pekerjaan
susah didapat,kecuali bagi
mereka yang memiliki sawah
atau kebun.Itupun,kini ratarata
telah dikuasai sebagian
pendatang baru yang punya
modal cukup
gede,menggandeng para
tengkulak dan beberapa gelintir
pengayom rakyat yg masih bisa
di cokol dgn berlembarlembar
rupiah demi untk mendapat
persetujuan warga agar
bersedia menjual lahan mereka
pd para tuantuan
itu.Alhasil..negara tetangga lah
tujuan satusatunya untk dpt
mengadu nasib menyambung
hidup keluarga.
Dan,Iqbal adalah salahsatu dari
jutaan Buruh Migran
tersebut,terhitung sejak Rayhan
berusia 3bulan dalam
kandungan.Namun
demikian,kepahitan kepahitan
rumahtangga yg mereka alami
tidaklah menyurutkan keduanya
untuk tetap hidup dalam satu
ikatan.
[ sambungan msh dlm
proses..harap
bersabar.hehe..mengisi waktu
malamku dgn belajar
menulis.Kritik
saran,dipersilakan ]
LEZATNYA SEBUAH JANJI #2
Oleh : Perempuan Di Keheningan
Bertiga merekapun berangkat
menuju Juanda.Disepanjang
perjalanan,Rayhan yang
tergolong bocah pintar itu
bersenandung riang.Ada saja
polahtingkahnya yg membuat
gemas.Sesekali Ia melemparkan
suatu tanya."Buk,kenapa sich
roda itu kok bulet?".."Buk,kalo
lampunya merah kenapa
berhenti?harusnya pas nyala
hijau saja ya mobilnya gak
boleh jalan!"..tentu saja dgn
lidah cedalnya yg justru
semakin membuat Intan dan
Anton kadang
terpingkalpingkal..Ah,barangkali
saja,naluri bocah itu yg terlalu
peka.Sedemikian bahagianya
menyambut kedatangan sang
Ayah.Hampir 2jam
perjalanan,mobilpun memasuki
area parkir Bandara.
"Jam berapa pesawatnya
mendarat,Ntan ?" tanya Anton
membuyarkan lamunan
Intan.Intan pun sontak gagap
dibuatnya.
"Eh..ehmm,anu..jam 11.10 Mas"
jawab Intan gugup.Ada
perasaan aneh yg menjalar
dibenaknya,namun segera Ia
tepis.Merekapun turun.Intan
menggendong Rayhan.Anton
berjalan
disampingnya.Memasuki
terminal 3.
"Sudah lewat dr setengah jam
lho,Ntan.Kok Iqbal blm nongol
juga.Coba kamu ke ruang
informasi,tanya ke
Petugas.Rayhan biar aku yg
gendong"cerocos Anton
membujuk adiknya itu.Ternyata
Anton jg menyimpan
kegelisahan yg sama.Hanya saja
keduanya saling menutupi.
"Mas,,tidak ada nama Mas Iqbal
di pesawat itu tadi.Bagaimana
ini ?"wajah Intan mulai
memucat.Beberapakali Ia
tampak menggigit bibir
menahan getir.Satu dua jam
berlalu,tetap tak menemukan
sosok suami yg Ia
tunggutunggu.
"Istirahat sebentar Ntan.minum
air dulu.Nich.."ujar Anton
sambil menyodorkan sebotol air
mineral kpd adiknya.Ia
mencoba menenangkan dgn
menepukbahu Intan.Sementara
keduamatanya masih menyisir
pintu keluar terminal
3.Resahnya tak kalah hebat dgn
kekhawatiran Intan yg terlukis
dr nanar mata Intan.meredup
pelan..serupa harapanharapan
yg sedari pagi td telah rapi
tertata.
"Dik,pertengahan Ramadhan
aku pulang.Agar nanti Lebaran
kita bisa menikmati waktu
bersama Rayhan.Aku juga
kangen sama anak kita."adalah
penggalan dr surat yg Iqbal
kirimkan sebulan yg
lalu.Bahkan sms2nya pun msh
disimpannya.Tapi kenapa jadi
begini?
janganjangan..ah,mungkinkah
Mas Iqbal pergi ketmpt
lain,atau ??".belum tuntas
angannya menanak
duga,seseorg tlh lbh dl
memangglnya dr arah
belakang.
"Mbak Intan ya ini ?"tanya
lelaki itu,mengulurkan tangan
untk berjabat lantas
menunjukkan foto Intan dan
Rayhan saling berdekapan.Foto
itu yg Ia krmkan pd suaminya
dulu."Mas Iqbal,dimana Mas?
bagaimana keadaannya?Anda
temannya bukan?"Intan
memberondong pertanyaan pd
laki2 yg kemudian diketahui
bernama Lukman tsb.
"Mbak,harap bersabar ya?Iqbal
dlm mslh besar.Dia kena razia
kelengkapan
dokumen,tertangkap.Ancaman
kurungan,denda dan
cambuk.Ratusan teman
menghadapi hal yg
sama.berdoa saja,pemerintah
bs membantu mereka."jelas
Lukman panjanglebar.
Tak ada kalimat yg keluar dr
bibir Intan.Ia duduk
terkulai,merangkul Rayhan dan
membenamkan kepala anak itu
didadanya.Tangisnya
pecah,meski tanpa suara.Inikah
janji yg akhirnya harus rela
teringkarkan.Anton memeluk
adik dan keponakannya
itu.Hatinya remuk !
Lebaran,suami tercinta msh blm
mendapatkan kepastian
hukuman.
Tak ingn berlamalama dlm
duka,Intan berdiri.Mengajak
kakaknya untk pergi.Satu hal yg
kini Ia minta dlm perjalanan
pulang ; semoga Rayhan tak
menanyakan,kenapa Pak pilot
lupa mengabsen
ayahnya,sehingga tetap berada
ditempat yg tak bisa
dijangkaunya.atau mgkn akan
berkata,apakah tdk ada lg
tempat duduk yg tersisa di
kabin hingga kepulangan
ayahnya terpaksa di
tunda.ya,semoga Rayhan tak
mempertanyakan,setidaknya
untk saat ini.
[ Tamat ]